Laman

Selasa, 21 Juli 2009

Purwokerto, I'm in love with youuu^^

Relax. Forget your business for a while. Now, I want tell you about the small town that made me in love.

What’s on your mind if you hear Purwokerto?


For me, that word mean ‘ndeso’ name, looks like so out of fashion and hi-tech device. In my first impression with that name, I feel the traditional atmosphere is very strong, just it!


Last Friday (July,17th), in the some breath with Bomb Terror of Jakarta, me and my family went to Puerto Rico. *Oh, forgive me with a slip of the pen*. I mean PURWOKERTO! It doesn’t mean we were joined exodus from Jakarta, it just incidentality!


After more or less 8 hours away by car, finally I beat up that small town. It was midnight so I couldn’t see the whole of town. And sleeping is the best choice! Hehehe… xp When the morning comes, I was going around the town which I staying with.


Making my way downtown, Walking fast, faces past And I’m homebound.. Staring blankly a head Just making my way, making my way Through the crowd..


Okay. Maybe ‘a thousand miles’ by Vanessa Carlton fit to play in my car. Lalala~ :DD


I frightened out of with that town. Well, Purwokerto is very beautiful and clean town, it won Adipura Cup as runner up last year. Not only it, but that town also has strong ‘magical power’ to make me stay on in there. If you stay in there, you will feel that time is running slowly. No more traffic jam hit the town. No more greedy in every second. By sure, those towns offer me pleasure. I can forget about anything that makes me hard pressed.

And this is the calm picture of Purwokerto.





The vehicles are not crowded as well as Jakarta. Maybe it because the popularity density is low. And because this town is not too large, so, you can finish Purwokerto in an hour by car, therefore the citizens choose motorbike to go around. Hehehe.. That’s why I’m in love with this town. ^^






This the downtown (alun-alun) in the towards the evening


I realize that Purwokerto is given me Indonesia looks like. The towny get on together in alun-alun (oh, could I found in Jakarta?). For your information, in that town I almost rare find foreign corporation was build. The control drive was local people. Nonintervention of foreign in local economic or culture. Many local restaurant offer local food like Mendoan, Soto Jalan Bank, Sate Kambing Tiga Saudara (thanks Jana for recomendation, I’ve taste it all. Delicious culinary!).


Once again I say, Purwokerto is very Indonesiatic! Standing ovation with that town.
Don’t be misinterpretation, far from foreign hands doesn’t mean out of fashion, in the fact I often look many internet store in that town, it makes Purwokerto always have an ear to the ground.
Maybe, we must learn from Purwokerto, how to develop its region without leave any local culture. That’s the point!


In outside of town, we can still look many fields…


Especially in the road to Baturraden. Oh, how beautiful God’s creature^^

Forgive me if I cannot stop to take a photograph about the scenery I saw. It’s cool baby, cool!!;)








Yap. Baturraden is tourists area that located in the top of Slamet Mountain, Central Java. You just pay five thousand rupiahs and then you will see beautiful scenery in there.^^



Me in Baturraden.


Okay, that’s my report from my trip in Purwokerto. You can called me too much show off, whatever, but, I just want to sharing experience with the place I amazed. It will makes me proud being Indonesian (and maybe you too).
*Next trip in Dieng, just looking my album by yourself. Sorry, if my English grammar gets wrong! hehe;)

Sabtu, 11 Juli 2009

Jadilah Diri Sendiri

Tujuanmu adalah menemukan siapa dirimu sebenarnya (A course of Miracle). Begitu diri sendiri ditemukan, keajaiban hidup akan segera berdatangan. Sayangnya, menemukan diri (sesuatu yang sangat dekat) tidak mudah dilakukan. Jadwal keinginan yang terlalu deras membendung kita untuk lebih memburu hal-hal di luar diri kita: musik terbaru, berita atau gossip terbaru, hasil pertandingan terbaru, dan segala yang baru dari luar diri. Kita terus menerus melayani apa yang ada di hadapan kita, bukan yang ada dalam diri kita. Dorongan untuk dianggap “sama dengan yang lain” atau “mengikuti tren terkini” mendesak kita untuk mengesampingkan perasaan, kearifan, dan kelelahan kita:

“Sembilan puluh persen kesengsaran dunia berasal dari orang-orang yang tidak mengenal diri mereka sendiri, kemampuan, kelemahan moril, bahkan kebajikan mereka sendiri. Kebanyakan dari kita menjalani hampir seluruh hidup kita sebagai orang yang sama sekali asing terhadap diri kita sendiri” (Sydney J. Haris)

Dalam masyarakat yang terarah keluar diri, kita terus melangkah maju dan lupa. Kita menjadi begitu terbiasa dengan suasana hiperaktif sehingga lupa cara untuk hening, santai, dan menyelaraskan diri dengan perasaan kita yang sebenarnya. Kita lupa bagaimana “membaca” diri kita sendiri. Kita punya daftar panjang nomor pin atau kata sandi untuk membuka rekening/username, tetapi tidak punya akses untuk masuk ke batin kita. Kita begitu jenuh dengan tuntutan tren sehingga lupa bagaimana menjadi sadar akan diri sendiri, terarah ke dalam diri. Seseorang yang sibuk bahkan berkata, “untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik, saya harus menjadi seseorang yang tidak saya kehendaki.”

Emerson menulis, “Janganlah Anda memercayai janiji kemenangan politik, kenaikan gaji, kesembuhan dari penyakit atau kembalinya harihari bahagia, sebab permasalahannya tidak semudah yang dikatakan. Bahkan tiada sesuatu pun yang dapat mendatangkan ketenangan bagi Anda kecuali diri Anda sendiri.” Ketika keinginan untuk sukses seperti orang lain menguat, saat itu kita lupa kepada diri kita sendiri. Stress akan muncul karena Phytagoras (filsuf Yunani) pernah berkata, “Sakit itu tidak ada, yang ada hanyalah keabaikan atau ketiadaan kesadaran diri.”

Al-Qur’an menyatakan, Wahai jiwa yang tenang, kembali kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai (oleh-Nya). (QS. Al-Fajr : 27-28). Fantastis, Al-Qur’an sering memberikan peringatan akan bahaya penyakit jiwa ketimbang penyakit badan, Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS. Al-Shaff : 5). Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta (QS. Al-Baqarah :10)

Montaigne, seorang filsuf Perancis, menyatakan, “Tubuh manusia tidak banyak terpengaruh oleh kejadian yang menimpa dirinya; tidak sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh pendapatnya karena memikirkan sesuatu peristiwa.” Dalam sebuah atsar disebutkan, “Ya Allah, jadikanlah diriku merasa puas akan ketetapanMu sehingga aku meyakini bahwa apa saja yang menimpa diriku bukanlah sesuatu yang nyasar kepadaku dan apa saja yang luput dariku bukanlah karena dipalingkan kepadaku.”

Semakin mengenali diri, semakin baik kita memercayai kecerdasan yang ada dalam diri. Gede Prama menyebutkan bahwa pada masing-masing diri ada sesosok bayi yang ingin terus dilahirkan. Bayi yang memiliki cara pandang yang polos, penuh senyum pada seluruh peristiwa, tidak masuk akal (karena lebih mengutamakan kebahagiaan), lucu, berpusat pada diri, dan lentur. Bayi adalah innocent (tanpa dosa, tanpa pikir panjang yang rumit-rumit). Jika kita sedang mumet, dengarkan permintaan bayi kita, lalu ikutilah keinginannya untuk diam sejenak, atau bernyanyi atau berjingkrak-jingkrak. Know yourself! Itulah dasar pemikiran filsafat Ekstensialisme.

every day there's a boy in the mirrorasking me what are you doing herefinding all my previous motivesgrowing increasingly unclear
(Homesick – Kings of Convenience)

Setelah mengetahui diri yang sama pentingnya adalah penerimaan-diri; semakin kita melatih penerimaan-diri, semakin mudah untuk mengakui kekuatan kita, mengapresiasikan prestasi yang kita dapat, menghadapi tantangan, terbuka terhadap umpan balik, menerima tawaran bantuan, dan seterusnya. Penerimaan diri membuat segala sesuatunya menjadi mudah sedangkan penolakan diri menimbulkan pergulatan yang lebih keras dan ketidaktenangan dan menuntut lebih banyak kerja keras. Psikolog Carl Gustav Jung menulis, “Orang bisa memenuhi tuntutan keharusan dari luar dengan cara yang ideal jika dia juga memenuhi tuntutan dari dunia di dalam dirinya; artinya jika dia rukun dengan dirinya sendiri.”

Menerima diri berarti tidak menginginkan menjadi orang lain. Hidup orang lain bisa tampak begitu menyenangkan, tapi belum tentu begitu keadaannya. Rumput di halaman tetangga kadang terlihat lebih indah daripada rumput halaman sendiri. Janganlah meniru kepribadian orang lain. Sesungguhnya sikap itu akan membuat kita gampang bersedih. Banyak orang yang melupakan diri mereka, suara mereka, gerakan, bakat, hobi, dan sebagainya demi menjadi orang lain. Hasilnya adalah keterpaksaan, terseret-seret seperti bayangan yang selalu mengikuti pusatnya.

Sejak Adam hingga mahluk terakhir, belum pernah ada yang sama diantara dua orang dalam kembarnya. Lalu, mengapa kita harus sama dengan yang lain? Kita adalah sosok khas yang belum pernah ada sepanjang sejarah, tidak ada sosok yang sama dengan kita. Yakinilah itu… Sungguh, tiap-tiap manusia mengetahui tempat minumnya sendiri.. (QS. Al-Baqarah : 60) Tiap-tiap umat memiliki kiblatnya sendiri yang mereka menghadap kepadanya. Oleh karena itu, berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan… (QS. Al-Baqarah : 148)

So, jalanilah hidup ini dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang telah diberikan Allah kepada diri kita. Jangan ubah suara, jangan ganti aksen bicara, jangan ubah cara berjalan. Bersyukur sajalah dengan apa yang sudah diberikan Allah. Carilah rahasianya sambil percaya bahwa Allah tidak pernah iseng ketika menciptakan kita.

Kalau dikaitkan dengan pengalaman pribadi penulis, “Orang akan semakin sulit mendefinisikan dirinya; Saya Adalah…; ketika sudah banyak topeng (kepura-puraan) watak yang telah ia mainkan di dunia nyata. Akibatnya, saat ia harus menjelaskan siapa dirinya, ia bingung harus menjawab apa, karena ia telah kehilangan karakter asli dirinya sendiri. So, be your self, guys!”

*sumber : sebagian dikutip dari buku La Tahzan for Teens oleh Qomaruzzaman Awwab.

Minggu, 14 Juni 2009

YOU and Me ^^

Always when we fight,
I try to make you laugh
Until everything's forgotten,
I know you hate that

Ba ba ra ra ba ba ba baBa ba ra ra ba ba ba ba

Always when we fight,
I kiss you once or twiceAnd everything's forgotten,
I know you hate that

I love you Sunday sun,
the week's not yet begun
And everything is quiet

And it's always you and me always and forever
You and me always and forever

Ba ba ba ba ba
It was always you and me always

You tell me I'm a real man,
and try to look impressed
Not very convincing, but you know I love it
Then we watch TV, until we fall asleep
Not very exciting
But it's you and me always and we'll always
Be togetherYou and me always and forever

Ba ba ba ba ba
It was always you and me always and forever
You and me always and forever
Ba ba ba ba ba
It was always you and me always and forever
You and me always and forever

Ba ba ba ba ba
Ba ra ra

Lamunan sebelum tidur

Tau gak?? sbenernya mataku ini udah sangat ngantuk, badanku udah sangat lelah, tapi pikiranku masih melayang-layang bebas di angkasa..

Trus, tau gak akhirnya apa yang aku kerjain?? Aku malah mengutak-atik papan keyboard tanpa tau mau menulis apa...

sst..pernah gak kamu begitu??

Gak bisa tidur gara-gara kepikiran ama sesuatu, ntah itu tentang dirimu, dirinya, benda itu, hari itu, hal itu..

Yah, inilah yang aku lakukan, berusaha menuangkan segala bentuk pikiranku agar gak kepikiran lagi, lalu bisa tidur dengan nyenyak..
*aku harap ini bisa lebih ampuh dari obat tidur, ntar kalo sukses aku kasih tau deh..hehe*

=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Ini bukan tentangku, ini tentang mereka..
Semua yang mereka kerjakan yang terkadang terus berputar-putar di pikiranku dan membentuk sebuah tanda tanya besar tanpa maksud apa-apa dan hanya sebuah tanda tanya besar!

Terkadang dunia itu terlalu mudah membuatku tertawa dengan segala mimpi-mimpi indah yang pada akhirnya adalah tidak abadi..

Terkadang dunia itu terlalu mudah membuatku terharu akan kebiruan dan sebuah lukisan senyuman dimatanya yang amat sendu..

Terkadang dunia itu terlalu mudah membuatku meneteskan air mata dan membangunkanku dari semua mimpi indahku..

Terkadang dunia itu terlalu baik, amat baik malah, dan membuatku tak ingin berpisah dengannya. Padahal suatu saat nanti aku akan bahagia meninggalkannya. *amin*

Terkadang dunia itu terlalu kejam, membiarkan seorang anak ayam yang punya sayap tapi tak bisa terbang hidup di jalan sendiri dan terus menerus membuat sang anak ayam ingin pergi meninggalkannya, padahal dunia ini adalah tempat mencari bekal sebanyak-banyaknya..

Terkadang dunia itu seperti guru, memberikan pelajaran terus menerus tiap hari (secara langsung atau tidak), memberi teguran hari demi hari, tapi aku masih aja suka meremehkannya..

Terkadang dunia itu seperti ibu peri, yang membacakan dongeng tentang putri dan pangeran-kemudian-mereka-hidup-selamanya, setiap malam dan hingga aku terlelap..

Terkadang dunia itu seperti samudera, membentang luas, terlalu luas, hingga aku gak yakin akan memilikinya semua..

Terkadang dunia itu..
RUMIT!
Terlalu rumit untuk terus dipikirkan kelanjutannya..

Buktinya? Ya, aku ini..

Semakin banyak yang dipikirkan, semakin menjadi sulit tidur, uring-uringan kesana kemari ga jelas, mau merem susah banget,
tapi aku juga bingung mau nulis apa lagi saking banyaknya! *hahaha*

intinya mah,,
“Anything can happen in this world”


Slalu ada aja semua yang berganti tiap waktunya tentang aku, duniaku, pikiranku dan mimpiku..

Kalo katanya Dido mah,
it comes and it goes
*ehehe*

=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.

Udah, ah, aku pengen tidur.. :D

“bismika alluhuma ahya wa bismika wa amud”

zzz

Berbahagialah..^^

Berbahagialah..

Ada satu hal yang membuat kita gampang putus asa dan bersedih, yaitu, menolak diri sendiri. Allah berfirman, “…berpegang teguhlah pada apa yang telah Allah berikan kepadamu dan jadikanlah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS. Al-A’rah : 144)

Kisah ini dari buku Mr.Positive vs Mr. Negative karya Praveen Verma. Konon ada seorang pemuda yang bermimpi bertemu dengan malaikat. Saat itu dia mengajukan satu keinginan, “aku ingin tinggal dalam sebuah rumah besar dengan sebuah serambi di depan, dua peliharaan yang bagus, dan sebuah taman di halaman belakang. Aku ingin menikah dengan seorang wanita yang tinggi, cantik, baik hati, dan berambut hitam panjang, bermata biru, yang bias bermain gitar dan bernyanyi dengan suara bening dan tinggi.

Aku juga ingin tiga anak lelaki yang kuat sebagai teman bermain sepak bola. Ketika mereka tumbuh dewasa, yang satu akan menjadi ilmuwan besar, satu lagi menjadi senator, dan yang paling muda menjadi penyerang belakang. Aku ingin menjadi petualang di samudra luas, mendaki gunung-gunung tinggi dan menyelamatkan orang. Dan aku ingin mengendarai Ferrari merah dan tidak pernah menyupir sendiri.”

Malaikat menjawab, “tampaknya itu mimpi yang indah. Aku ingin kamu bahagia.”

Suatu hari, saat bermain sepak bola, anak lelaki itu terluka lututnya. Tentu dia tidak bias bertualang ke laut dan gunung-gunung. Dia pun terpaksa banting stir dan memulai bisnis pemasok farmasi. Dia menikahi seorang gadis cantik dan baik hati, tapi gadis itu pendek bermata cokelat (tidak biru), tidak dapat bermain gitar apalagi bernyanyi ( tapi, bisa memasak masakan yang enak). Karena usahanya yang biasa-biasa saja, dia tinggal di kota besar di puncak gedung apartemen yang tinggi dengan pemandangan di laut yang membiru dan lampu kota di bagian bawah. Dia pun memiliki anak perempuan lumpuh, tapi sangat cantik dan pintar memainkan musik. Dia tidak mengendarai Ferrari meski sangat berkecukupan.

Suatu ketika dia terbangun dari tidur dan mengingat mimpinya yang dulu. Dia pun bersedih dan mengeluh kepada psikolog. Dia mengeluhkan tentang istrinya, rumahnya, dan kariernya. Dia dikenai bayaran $ 110. Karena masih ingin Ferrari, dia mendatangi seorang akuntan untuk mencoba menghitung uangnya. Akuntan itu mengenakan biaya $ 100. Dia pun datang ke ahli nujum untuk mengeluhkan nasib anaknya. Semua yang didatangi menyatakan, “kamu sudah cukup bahagia dengan kondisimu sekarang!”

Lelaki ini tak mau mendengar, akhirnya jatuh sakit. Semua keluarga bersedih, kecuali psikolog, akuntan, dan ahli nujum. Pada suatu malam, dia bermimpi bertemu malaikat lagi, “Kenapa Tuhan tidak memberikan permintaanku?”

Malaikat menjawab, “Tuhan bisa memberikan semuanya, tapi Tuhan ingin mengejutkanmu dengan hal-hal yang tak kamu impikan. Tuhan menyangka kamu telah memperhatikan apa yang telah diberikanNya kepadamu : seorang istri cantik dan baik hati, anak perempuan yang cantik, sebuah usaha yang bagus, dan sebuah tempat yang bagus untuk ditinggali.”

“Ya,” sela lelaki itu. “Tapi, aku pikir Tuhan akan memberikan apa yang benar-benar aku inginkan.”

“Dan Tuhan pikir, kamu memberikan kepadaNya apa yang benar-benar Dia inginkan.” Jawab malaikat.

“Apa yang Tuhan inginkan dariku?” tanya lelaki itu terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Tuhan menginginkan sesuatu dari dirinya.

“Tuhan ingin kamu bahagia dengan apa yang telah Dia berikan kepadamu,” jawab malaikat

Apakah kita telah berbahagia dengan seluruh yang kita terima dari Allah?

Jika ingin hidup bahagia, puaslah dengan postur yang telah diberikan Allah, dengan status keluarga (apapun kondisinya), dengan pemahaman, dan bakat yang kita miliki. Semua orang sukses memiliki rumus yang sama, terimalah dengan lapang dada anugerah yang diberikan, meskipun belum memenuhi harapan. Terimalah, tanpa merasa kekurangan.”

Bahkan, nabi-nabi pun bukanlah orang yang begitu megah dimata masyarakatnya. Hampir semua nabi adalah pengembala kambing, hanya beberapa yang memiliki profesi khusus; Daud adalah seorang pandai besi, Zakariya adalah seorang tukang kayu, Idris adalah seorang penjahit, dan Muhammad saw adalah seorang pesuruh.

Jadi, nilai kita terletak di bakat kita, amal saleh kita, manfaat dan akhlak yang ada dalam diri kita. Oleh karena itu, tidak alasan untuk bersedih, karena tidak mendapatkan ketampanan, harta benda, atau orang tua yang kaya raya. Tetaplah ridhalah dengan bagian yang telah diberikan Allah, “Kamilah yang telah membagikan di antara mereka penghidupan dalam kehidupan dunia.” (QS. 43:32)
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” (QS. 14:7)

Bersama kesukaran ada kemudahan, jadi La Tahzan! (jangan bersedih!).
Setelah malam, pasti ada fajar; setelah sahara semit, pasti ada taman hijau yang luas. Yakinlah, akan datang sahabat yang pergi, akan sembuh saudara yang sakit, akan tertolong orang yang mendapat cobaan, akan dilepaskan orang yang dipenjara, akan kenyang orang yang kelaparan.

Sesungguhnya, Kami memberikan kepadamu kebahagiaan yang nyata. (QS. 48:1)

*dikutip dari buku La Tahzan for teens, by : Qomaruzzaman Awwab. Hadiah yang indah saat aku terjatuh di suatu malam*

Sabtu, 13 Juni 2009

Aku Terharu :')


ntah mengapa tiba2 air mata ini perlahan menetes,
setetes, dua tetes, tiga tetes, tak tertahankan..
rasanya ada satu makna keluar dari setiap tetes mata itu..

beberapa hari terakhir ini, aku memang sedang diberi nuansa yang berbeda-beda oleh Allah..

ada masalah tasku yang hilang di musholla,
ada masalah SP yang ingin ku ambil,
ada masalah UAS yang menghantui,
ada tugas dan deadlinenya yang mengejar-ngejar,
ada masalah sahabat yang ternyata selama ini memanfaatku,
ada masalah ibuku dan adikku yang sedang sakit,
ada masalah : aku yang bingung dengan semua masalah itu..

aku benar-benar capek akan itu semua, malah aku sempat mengalami depresi hingga energi tubuhku drop, sempat juga d bawa ke UGD rumah sakit gara-gara kondisi fisikku yang sangat lemah saat itu..
*kondisi yg amat tdk mnyenangkan memang, tp percaya dh justru cobaan-cobaan seperti itu yang bikin lo ‘hidup’

Tapi di balik semua masalah itu, aku merasakan angin segaaarrrr…

Aku gak bohong, aku benar-benar masih bisa merasakan angin segar yang membuatku sadar bahwa aku harus tetap BERSYUKUR!

Aku merasa betapa kuatnya genggamanNya, membantuku untuk berdiri, menopang badanku agar tidak jatuh, lalu Dia seolah menyuruhku memandang lurus ke depan, membiarkanku berdiri tegar dan menyuruhku untuk selalu tampil tersenyum menghadapi semua ini. Dan Dia membuatku percaya bahwa aku tidak sendiri, ada Dia bersamaku, menjagaku..

Tidak hanya itu, Dia juga memberikanku kesempatan yang amat berharga padaku untuk berkenalan dengan orang-orang hebat!

Orang-orang hebat yang amat baik, tempatku berbagi suka dan duka..

Dan aku semakin terharu karena aku dapat berkenalan dengan mereka lebih dekat, terlebih mereka juga peduli dan menyemangatiku..

Bagiku, ngomongin tentang orang-orang hebat ini, gak ada abisnya, bisa speechless di akhir!
Mereka hebat dengan caranya sendiri, mereka saling memberi kontribusi yang berbeda untukku, yang kalo disatuin akan terbentuk pelangi yang indah dan tidak bisa diperbandingkan satu sama lain..

Bener-bener aku kagum dan terharu dengan respon kalian semua..


Aku benar-benar merasa berterimakasih pada mereka yang udah menyemangati aku..
*pdahal, aku tau mereka jg butuh untuk d smangati*
Aku juga ingin berterimakasih karna mreka udh mau dgrn critaku, kbingunganku,
“…saat UAS harus d hadapi, namun, mama yg lg d rmh sakit kala itu gak bs d tinggalin.”
ARGGHH!! bner-bner role conflict saat itu *hehe..
Namun, aku mencoba bertahan dengan kondisi seperti apapun itu. Aku percaya Allah gak akan menguji hambaNya cobaan yang gak sanggup ia hadapi.
Yah, seperti kata the Heggy..
”Setiap air mata, akan menjadi pendewasaan, sama kayak setiap derai tawa itu pembebasan dari penatnya jiwa”

a lot of thank you for all of you

Kamis, 07 Mei 2009

Refleksi Akhir Tahun Ajaran 2008/2009

Pada hakikatnya manusia itu bebas memilih, apa yang ia inginkan, apa tujuan hidupnya, ingin menjadi manusia seperti apakah ia, mau pergi kemanakah ia, dan sebagainya, tapi tentu saja meskipun ia bebas memilih semuanya, ia harus dapat BERTANGGUNG JAWAB untuk pilihan-pilihannya itu.

Hari ini adalah hari terakhir kuliah untuk semester dua ini. Tetapi, tentu saja ini bukan akhir dari kewajiban di semester dua, masih ada UAS/tugas akhir, ajang pembuktian tanggung jawab, ajang dimana mahasiswa harus dapat menunjukan apa-apa saja yang telah ia peroleh selama satu semester ini. Di luar itu semua (UAS, tugas, dkk.), saya merasa banyak poin penting yang telah saya dapat selama kurang lebih satu tahun saya belajar di Psikologi ini, dan saya ingin mengungkapkannya dalam sebuah refleksi ini.

Hakikat sebuah refleksi adalah mengetahui seberapa jauh kita dapat menangkap, mengenali dan memahami semua stimulus yang ada di sekitar kita.

Saya berusaha merefleksi semua kejadian ataupun kegiatan yang saya lihat, rasa dan lakukan dalam satu tahun belakangan ini (retrace). *sekali lagi, jangan langsung membayangkan tugas-tugas yang bejibun dulu, ini di luar itu semua*. Sebetulnya ini terkait dengan kuliah terakhir saya hari ini, yaitu Mata Kuliah Psikologi Umum II, yang mana dosen mata kuliah tersebut, Mas Adih Respati, memberikan penjelasan bahwa selama satu tahun pertama kita belajar di kampus, biasanya disebut masa pengenalan,

seharusnya memberikan gambaran atau peta besar tentang apa-apa saja yang akan kita pelajari selama kurang lebih tiga tahun mendatang.

Dari mulai kuliah-kuliah pengenalan dunia kampus, teori-teori dasar, sampai pada bagaimana kita harus memahami pola pikir ‘Psikologi’ dalam memandang kehidupan kelak (bisa disesuaikan dengan ilmu yang sekarang sedang anda dalami).

Apakah anda sudah menangkap itu semua??

Semua mata kuliah pada tahun pertama ini tentunya akan sangat berguna dalam mengikuti kuliah-kuliah pada tingkat-tingkat selanjutnya. Ibarat membangun sebuah rumah, maka yang pertama kali yang harus kita lakukan adalah menyediakan semua bahan pokoknya, lalu membuat pondasi rumah sekokoh mungkin. Begitu pula dengan kuliah tahun pertama ini, kita harus benar-benar menguasai ilmu-ilmu dasar pada tahun pertama (tidak main-main) agar kelak, pada kuliah-kuliah yang akan datang, kita mampu mengembangkan dan mengaplikasikan semua ilmu itu. Jadi bagaimana mungkin kita bisa men-skip semua ilmu pada tahun pertama ini dan berharap bisa melalui tahun berikutnya dengan lebih baik, tanpa gambaran/peta besar dalam suatu ilmu itu sendiri.


Buatlah sebuah kalimat yang merepresentasikan buku yang telah kamu baca, teori yang telah kamu dapat, film yang telah kamu tonton, lirik lagu yang telah kamu nyanyikan, musik yang telah kamu dengar, gambar yang telah kamu lihat, lalu berikan pada orang lain, bila orang lain itu dapat memahami pesan yang kamu tulis, berarti kamu telah memahami stimulus itu secara keseluruhan.
-Adih Respati-

Selama +/- setahun saya belajar pengantar ilmu-ilmu Psikologi *ingat ini masih pengantar, masih sangat dasar*, kesulitan pastilah ada. Psikologi itu membahas tentang kondisi jiwa, pikiran, perilaku, norma, perubahan fisik dalam tubuh, membuat alat ukur untuk itu semua, dsb. Artinya, sebagian besar apa yang dipelajari di dalam psikologi adalah abstrak, bukan ilmu pasti seperti rumus matematika, fisika, kimia atau rumus ekonomi, karena itu semua tidak dapat menjelaskan apa yang dibahas dalam psikologi tersebut. Dan disitulah kadangkala kesulitan bermula.

Kami semua di psikologi mempelajari pikiran manusia, yang sangat jelas sifatnya abstrak dan berbeda antara individu satu dengan lainnya. Maka dari itu, kami harus pintar-pintar membayangkan apa yang kami pelajari, dan cermat dalam menggunakan teori. Artinya begini, terkadang suatu teori tidaklah mampu menjelaskan satu populasi besar, yaitu manusia. Karena manusia itu sifatnya unik satu sama lain, maka terkadang kami harus cermat menentukan teori yang cocok untuk dibahas dalam suatu kasus. Mungkin kelihatannya mudah, tetapi nyatanya tidak demikian. Ini semua ibarat bermain games Maze, dimana kita harus menemukan jalan keluar yang tepat dari semua masalah atau kasus yang sedang dianalisis.

Namun, psikologi tidak juga dianggap sebagai ilmu yang sulit dipelajari pada akhirnya. Karena semua materi yang kami pelajari nyatanya sangat dekat dengat keseharian kami. Psikologi adalah ilmu yang sangat mudah untuk diaplikasikan langsung dibanding ilmu-ilmu eksak yang harus mengeluarkan biaya atau alat terlebih dahulu. Contohnya saja bagaimana dengan mudahnya kita dapat langsung menerapkan hirarki Maslow, yang menyatakan bahwa untuk memunculkan potensi diri manusia, maka kita harus memenuhi kebutuhan dasar dahulu (makan, minum, dsb), keamanan, penerimaan dan cinta kasih dari lingkungan, mempunyai harga diri, pengetahuan yang cukup, kemampuan untuk memperindah sesuatu.

Singkatnya, begitulah psikologi, ilmu yang telah saya pilih saya secara sadar untuk saya pelajari lebih dalam.

Terkait dengan pilihan, kita semua selalu dihadapkan dalam berbagai macam pilihan, pilihan untuk membaca habis note ini atau tidak, mengomentarinya atau tidak, dsb. Pilihan ada ditangan kita, sedangkan kebenaran tentang apa yang kita pilih hanya ditangan Allah.
Saya jadi ingat kuliah pertama sosiologi –mata kuliah individu, kebudayaan dan masyarakat- dan kuliah Filsafat Manusia. Kedua dosen dari mata kuliah tersebut menanyakan,

Mengapa kita memutuskan untuk kuliah?

Mengapa tidak bekerja atau menikah saja?

Mengapa kita memilih mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dan memilih UI (misalnya) sebagai tempat kuliah kita?

Mengapa tidak memilih universitas lain?

Dan mengapa pada akhirnya kita memilih jurusan yang sekarang ini kita tekuni, Psikologi (misalnya)?

pilihan SENDIRI? yakiiin….?

bagaimana kalau gagal?

SALAH SIAPA?

APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN?

Tak lama kemudian, suasana kelas sunyi sebentar, mungkin kita semua jadi berpikir ulang lagi, lalu menjadi ramai karena satu per satu orang mulai bersuara, menyatakan pendapatnya, berusaha menjawab semua pertanyaan itu.

Kalau dalam kuliah Pemahaman diri pertanyaan-pertanyaan seperti ini dikenal dengan self-direction. Self direction adalah kebutuhan untuk mengenal lebih banyak tentang diri dan dunia kita sebagai cara untuk mengarahkan kehidupan kita secara lebih efektif.

Tapi akhir-akhir ini saya jadi mengerti mengapa dosen-dosen tersebut menanyakan demikian. Pada dasarnya, mereka sedang ingin menanyakan sudah sejauh mana kita BERTANGGUNG JAWAB terhadap pilihan-pilihan yang kita buat.

Seperti kata Filsuf Ekstensialisme, Soren Kierkegaard, hidup bukanlah sebagaimana kita pikirkan, melainkan sebagaimana kita hayati. Dalam hidup manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan (Either/Or). Hanya pada saat lahir tidak ada pilihan bagi manusia. Dalam pilihan-pilihan inilah manusia menunjukkan eksistensinya.

Sartre juga berpendapat bahwa kebebasan erat kaitannya dengan tanggung jawab. Setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Masukan dari orang lain merupakan pilihan; jika kita mengikuti nasihat, petunjuk atau perintah orang lain, tetap itu adalah pilihan kita; kita yang harus bertanggung jawab atas pilihan itu; kita yang harus menanggung konsekuensinya.

Ya, kita semua yang ini memang harus bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang telah kita tentukan.

Sebelum memasuki periode perkuliahan, mahasiswa diwajibkan mengisi IRS, memilih mata kuliah apa yang ingin diikutinya dalam periode mendatang, berapa SKS yang ingin diambil, kelas mana yang ingin dipilih, kita semua bebas memilih itu semua bukan? (kecuali persyaratan pengambilan SKS). Lalu, sekarang kita semua sudah menjalani semua pilihan-pilihan itu (dengan baik). Tapi, halloo..dimanakah tanggung jawab kita ??

terkadang tanggung jawab merupakan uang yang harus dibayar setelah kita membeli semua kebebasan itu.

Tanggung jawab2 itu seperti mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan belajar untuk ujian, dsb..

Hey, There, are you really has done those responsibility well??

Itu semua kembali lagi kepada kita masing-masing. Yang jelas, tanggung jawab terakhir kita di semester ini sebentar lagi akan berakhir, UAS tinggal menghitung hari kawan. Maka, manfaatkanlah bentuk tanggung jawab terakhir kita itu dengan sebaik mungkin. Ingat, pilihan itu adalah sebuah barang yang harus dilunasi. SEMANGAT UNTUK UAS SEMUA!! MARI BERJUANG MELUNASI TANGGUNG JAWAB ITU!!
*maaf jika ada yang kurang berkenan, dan panjangnya note ini yang di luar dugaan. Free for comment, guys!*