maybe you not better than me. and I maybe not better than you. but, sharing each other maybe a better-simple-solution for us! so, welcome and enjoy :)
Minggu, 06 September 2009
Refleksi #2 : My Mom is Amazing
This note is for everyone who love your mother or (sometimes) hate her.
please, check out this link first : http://www.youtube.com/watch?v=BumWAcktEbU
This song touch me so hard (especially the end) please watch it till the end cause is the end who makes the difference.
Please take 3 minutes to watch it, without thinking of religious and what you believe..
I dont think it makes any different to the eyes of a child the religious..
Everyone dissereves a mom who would love you and care for you especially the first years of your life...
then, this is the lyrics, make it sense! :D
My Mom Is Amazing
lyrics by Zain Bhikha
She wakes up early in the morning with a smile
And she holds my head up high
Don't you ever let anybody put you down
Cos you are my little angel
Then she makes something warm for me to drink
Cos it's cold out there, she thinks
Then she walks me to school,
Yes I aint no foolI just think my Mom is amazing
BRIDGE/CHORUS
She makes me feel
Like I can do anything
and when she's with me
there's no where else, I'd rather be?
After School, she's waiting by the gate
I'm so happy that I just can't wait
To get home to tell her how my day went
And eat the yummy food, only my Mom makes
Then I wind her up cos I don't wanna bathAnd we run around the house with a laugh
No matter what I say, she gets her wayI think my Mom is amazing
BRIDGE/CHORUS
In the evening, she tucks me into bedAnd I wrap my arms around her head
Then she tells me a tale of a girl far awayWho one day became a princess
I'm so happy, I don't want her to leaveSo she lies in bed with me
As I close my eyes, how lucky am ITo have a Mom that's so amazing
BRIDGE/CHORUS
Then I wake up in the morning, she's not thereAnd I realize she never was
And I'm still here in this lonely orphanage
With so many just like me
And as my dreams begin to fade
I try hard to look forward to my day
But there's a pain in my heart that's a craving
How I wish I had a Mom that's amazingWould be amazing
*this is the old song but I recently know it from kak Tami,and for me it's very very heartwarming song! :') :')
hope you can love your mother however she's parenting you.
GUYS, PROVE IT RIGHT NOW IF YOU LOVE HER!^^
Jumat, 04 September 2009
jadi gak sabaran pas baca ini!

as written on the postcard:
Bergen, June 8th 2009
Dear Fans!
Good things come to those who wait. We know it’s taken a while but finally we are done with our 3rd album. It will be released in the end of September and after that we will go on tour :-).
The album was recorded in Italy and Bergen and in Erlend’s flat.See you soon.
ErlendFans in:Mexico, France, UK, Japan, USA, Sverige, Italia, Spania, Portugal, Brasil, Indonesia, Finland, Holland, Russia, Tyskland, Switzerland, Ireland, Canada, Korea, Norge.Re-
post from Dara Anggia's
*Semoga bisa nonton, Amin :)
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
copas dari notenya yunda.
Thanks for the info which makes me cant wait til that show^^
Refleksi # 1: Pentingnya istiqamah
Prolog.
Tiba-tiba pemuda itu berkata,
”Tidak takutkah kita ketika ajal menjemput, kita dalam perbuatan maksiat, sedang bergosip ria, sedang berduaan dengan yang bukan muhrimnya, sedang menghardik orangtua?! Tidak senangkah kita bila kita meninggal dalam keadaan membaca Al-Qur’an, bersedekah, menunaikan puasa, sholat, dsb?!”
Maka beristiqamahlah kalian wahai golongan yang berpikir…
..dan aku pun hanyut dalam perenunganku sendiri, apa sih istiqamah itu?
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Isi ceramah pemuda paruh baya yang biasa dipanggil pak ustadz itu, saat tadi sholat tarawih, benar-benar sangat membuatku penasaran tentang “Apa itu ISTIQOMAH?” seringkali aku mendengar kata-kata itu tapi kadang masih belum paham benar arti sebenarnya.
Aku pun akhirnya mencari ayat yang disebutkan sang ustadz dalam ceramah tadi. Maka kubuka Al-Qur’an merah yang cukup besar itu, dan aku menemukannya dalam surat Fushshilat ayat 30 . . .
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Secara etimologis (bahasa), istiqamah berasal dari kata istaqaama yastaqiimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekwen Dalam terminologi akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang di tengah-tengah lautan, yang tidak bergeser sedikitpun, walaupun dipukul gelombang yang bergulung-gulung.
Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam sifat atau bentuk yang tidak menyenangkan. Keberhasilan usaha juga bisa sebagai ujian. Pujian juga bisa sebagai ujian. Dengan keberhasilan usaha atau pujian orang bisa menjadi ujian bagi dirinya, manakala hal itu membualnya lalai dan sombong, kufur nikmat adalah kesudahan yang akan menimpa dirinya.
Seorang mukmin yang istiqamah tidak akan mundur (goyah) ketika berhadapan dengan berbagai macam godaan dan ancaman. Imannya tidak goyah oleh pengaruh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala kesenangan semu yang lainnya. Nabi SAW adalah contoh teladan utama dalam masalah istiqamah, baik celaan, ancaman, bujukan, bahkan dengan tawaran berbagai sarana dan fasilitas kehidupan yang indah dan megah dari para musuh lslam. Namun Nabi SAW tetap istiqamah bersama keimanan dan keislamannya.
Adalah sikap istiqamah Nabi SAW yang sangat jelas dan tegas. Ketika pemuka kafir Quraisy Abu Jahal menawarkan jabatan, harta dan wanita melalui Abu Thalib (paman Nabi S AW), dengan tegas Nabi SAW menjawab: “Walaupun matahari diletakkan di tangan kanan saya, dan bulan di tangan kiri saya, agar saya menghentikan kegiatan dakwah saya, saya tidak akan menghentikannya”
Baik, singkat kata aku mengambil kesimpulan bahwa istiqamah berarti teguh, kuat pendirianLalu, ustadz itu menyampaikan ayat lain . . .
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”(Q.S Al-Hajj : 11)
Sang ustadz pun menjelaskan, maksud dari menyembah Allah dengan berada di tepi adalah ia muslim, tapi setengah-setengah.
Bila di Islam diibaratkan sebuah aliran sungai yang amat dalam, maka ia tetap berada ditepi, tidak mau menggali dan menyelaminya lebih dalam dan mencari aman!
Bila divisualisasikan, islamnya itu berwarna abu-abu, tidak hitam, tidak pula putih. Namun, kadang bisa hitam, kadang bisa putih, dan berganti sesuai kehendaknya, sesuai lingkungannya.Misalnya saja, saat dirumahnya ada pengajian, ia memakai kerudung atau tampak alim dengan baju koko, ikut mengaji dan sholat bersama.
Tapi saat ia bertemu dengan lingkungan yang (katakanlah) negatif, yang berdugem ria melakukan perbuatan sia-sia, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya, ia membuka kerudungnya, ia ubah tingkah laku alim saat dipengajian, ia kenakan baju yang terbuka auratnya. *Masya Allah, ITU AURAT, Mbak, Mas! AURAT!* seakan-akan, baju koko atau kerudung itu hanyalah topeng belaka untuk menutupi perbuatan maksiatnya. Apakah tindakan seperti itu bisa dikatakan istiqamah? TENTU SAJA BUKAN! Maka merugilah ia di dunia dan akhirat. Sungguh ia telah mengalami kerugian yang nyata!*baca kembali ayat tsb dan perhatikan bagaimana Allah memperingatkan kita dengan menyebutkan kata rugi itu dua kali*
Orang-orang yang seperti itu berpikir dengan bebas mengubah-ubah topeng mereka bisa aman, selamat dan dapat diterima oleh banyak kalangan. Katakanlah pada mereka, bahwa mereka telah amat MERUGI!Jadilah Muslim yang istiqamah! Yang berpendirian teguh saat mengucapkan Tuhanku adalah Allah dan aku beriman kepadaNya. Islam itu satu, saudaraku. Bukan setengah-setengah!
“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (Q.S Yaasin :25)
Mengapa kita sangat dianjurkan untuk senantiasa istiqamah?
Alasannya cuman satu, hari esok siapa yang tahu selain Dia. Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, dimana kita akan mati, dan dalam seperti apa keadaan kita saat itu. bagi orang yang setengah-setengah, mungkin saja dia bisa mati dalam keadaan ikut pengajian, tapi ia juga bisa mati dalam keadaan mabuk sepulang dari diskotek atau sedang dalam perbuatan maksiat lainnya. Sungguh, kerugian untuknya!
Dan beruntunglah orang-orang yang senantiasa istiqamah dalam hidupnya. Tiada keraguan padanya tentang islam. Karena setiap tindakannya adalah (pasti) berada dalam kebaikan.
Semoga kita juga termasuk golongan mereka. Amin ya rabbal’alamin.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Epilog.
Teman, memang benar yang dikatakan oleh ustadz itu. aku sendiri (menyadari) belum sepenuhnya bisa istiqamah di jalanNya. Tapi aku akan berusaha untuk memegang teguh islam yang kuyakini ini dalam situasi apapun. Dan aku pun yakin, siapa pun kita, bisa melakukannya asal kita ada berkemauan untuk mengubah yang lalu dan konsisten memperbaikinya.
Gampangnya gini aja deh, misalnya pas bulan puasa ini kita bisa shalat, baca Qur’an, sedekah tiap hari, masa pas sesudah Ramadhan gak bisa konsisten lagi sih?
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz).”(Q.S Yaasin : 12)
Tiba-tiba pemuda itu berkata,
”Tidak takutkah kita ketika ajal menjemput, kita dalam perbuatan maksiat, sedang bergosip ria, sedang berduaan dengan yang bukan muhrimnya, sedang menghardik orangtua?! Tidak senangkah kita bila kita meninggal dalam keadaan membaca Al-Qur’an, bersedekah, menunaikan puasa, sholat, dsb?!”
Maka beristiqamahlah kalian wahai golongan yang berpikir…
..dan aku pun hanyut dalam perenunganku sendiri, apa sih istiqamah itu?
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Isi ceramah pemuda paruh baya yang biasa dipanggil pak ustadz itu, saat tadi sholat tarawih, benar-benar sangat membuatku penasaran tentang “Apa itu ISTIQOMAH?” seringkali aku mendengar kata-kata itu tapi kadang masih belum paham benar arti sebenarnya.
Aku pun akhirnya mencari ayat yang disebutkan sang ustadz dalam ceramah tadi. Maka kubuka Al-Qur’an merah yang cukup besar itu, dan aku menemukannya dalam surat Fushshilat ayat 30 . . .
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Secara etimologis (bahasa), istiqamah berasal dari kata istaqaama yastaqiimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekwen Dalam terminologi akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang di tengah-tengah lautan, yang tidak bergeser sedikitpun, walaupun dipukul gelombang yang bergulung-gulung.
Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam sifat atau bentuk yang tidak menyenangkan. Keberhasilan usaha juga bisa sebagai ujian. Pujian juga bisa sebagai ujian. Dengan keberhasilan usaha atau pujian orang bisa menjadi ujian bagi dirinya, manakala hal itu membualnya lalai dan sombong, kufur nikmat adalah kesudahan yang akan menimpa dirinya.
Seorang mukmin yang istiqamah tidak akan mundur (goyah) ketika berhadapan dengan berbagai macam godaan dan ancaman. Imannya tidak goyah oleh pengaruh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala kesenangan semu yang lainnya. Nabi SAW adalah contoh teladan utama dalam masalah istiqamah, baik celaan, ancaman, bujukan, bahkan dengan tawaran berbagai sarana dan fasilitas kehidupan yang indah dan megah dari para musuh lslam. Namun Nabi SAW tetap istiqamah bersama keimanan dan keislamannya.
Adalah sikap istiqamah Nabi SAW yang sangat jelas dan tegas. Ketika pemuka kafir Quraisy Abu Jahal menawarkan jabatan, harta dan wanita melalui Abu Thalib (paman Nabi S AW), dengan tegas Nabi SAW menjawab: “Walaupun matahari diletakkan di tangan kanan saya, dan bulan di tangan kiri saya, agar saya menghentikan kegiatan dakwah saya, saya tidak akan menghentikannya”
Baik, singkat kata aku mengambil kesimpulan bahwa istiqamah berarti teguh, kuat pendirianLalu, ustadz itu menyampaikan ayat lain . . .
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”(Q.S Al-Hajj : 11)
Sang ustadz pun menjelaskan, maksud dari menyembah Allah dengan berada di tepi adalah ia muslim, tapi setengah-setengah.
Bila di Islam diibaratkan sebuah aliran sungai yang amat dalam, maka ia tetap berada ditepi, tidak mau menggali dan menyelaminya lebih dalam dan mencari aman!
Bila divisualisasikan, islamnya itu berwarna abu-abu, tidak hitam, tidak pula putih. Namun, kadang bisa hitam, kadang bisa putih, dan berganti sesuai kehendaknya, sesuai lingkungannya.Misalnya saja, saat dirumahnya ada pengajian, ia memakai kerudung atau tampak alim dengan baju koko, ikut mengaji dan sholat bersama.
Tapi saat ia bertemu dengan lingkungan yang (katakanlah) negatif, yang berdugem ria melakukan perbuatan sia-sia, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya, ia membuka kerudungnya, ia ubah tingkah laku alim saat dipengajian, ia kenakan baju yang terbuka auratnya. *Masya Allah, ITU AURAT, Mbak, Mas! AURAT!* seakan-akan, baju koko atau kerudung itu hanyalah topeng belaka untuk menutupi perbuatan maksiatnya. Apakah tindakan seperti itu bisa dikatakan istiqamah? TENTU SAJA BUKAN! Maka merugilah ia di dunia dan akhirat. Sungguh ia telah mengalami kerugian yang nyata!*baca kembali ayat tsb dan perhatikan bagaimana Allah memperingatkan kita dengan menyebutkan kata rugi itu dua kali*
Orang-orang yang seperti itu berpikir dengan bebas mengubah-ubah topeng mereka bisa aman, selamat dan dapat diterima oleh banyak kalangan. Katakanlah pada mereka, bahwa mereka telah amat MERUGI!Jadilah Muslim yang istiqamah! Yang berpendirian teguh saat mengucapkan Tuhanku adalah Allah dan aku beriman kepadaNya. Islam itu satu, saudaraku. Bukan setengah-setengah!
“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (Q.S Yaasin :25)
Mengapa kita sangat dianjurkan untuk senantiasa istiqamah?
Alasannya cuman satu, hari esok siapa yang tahu selain Dia. Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, dimana kita akan mati, dan dalam seperti apa keadaan kita saat itu. bagi orang yang setengah-setengah, mungkin saja dia bisa mati dalam keadaan ikut pengajian, tapi ia juga bisa mati dalam keadaan mabuk sepulang dari diskotek atau sedang dalam perbuatan maksiat lainnya. Sungguh, kerugian untuknya!
Dan beruntunglah orang-orang yang senantiasa istiqamah dalam hidupnya. Tiada keraguan padanya tentang islam. Karena setiap tindakannya adalah (pasti) berada dalam kebaikan.
Semoga kita juga termasuk golongan mereka. Amin ya rabbal’alamin.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Epilog.
Teman, memang benar yang dikatakan oleh ustadz itu. aku sendiri (menyadari) belum sepenuhnya bisa istiqamah di jalanNya. Tapi aku akan berusaha untuk memegang teguh islam yang kuyakini ini dalam situasi apapun. Dan aku pun yakin, siapa pun kita, bisa melakukannya asal kita ada berkemauan untuk mengubah yang lalu dan konsisten memperbaikinya.
Gampangnya gini aja deh, misalnya pas bulan puasa ini kita bisa shalat, baca Qur’an, sedekah tiap hari, masa pas sesudah Ramadhan gak bisa konsisten lagi sih?
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz).”(Q.S Yaasin : 12)
Kamis, 27 Agustus 2009
Lagu ini (kembali) "menampar" saya!!
Tiba-tiba saya mendengar lagu ini dan ternyata saya kembali "tertampar" dengan makna-makna didalamnya.
Mari kita ingat dan renungkan kembali makna dari lagu yang mengutip surat Al-Ashr ini...
Demi masa...
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan...
Yang beriman dan beramal saleh
Demi masa...
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan...
Nasihat kepada kebenaran dan kesabaran
( chorus 1 )
Gunakan kesempatan yang masih diberi
Moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan
Kerna ia takkan kembali
( chorus 2 )
Ingat lima perkara, sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
Demi masa...
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan...
Yang beriman dan beramal saleh
= = = = = = = = = = = = = = =
sebagai pengingat...mengingatkan kita akan kematian,,,,ya,,kematian...tentang maut yang siap datang kapan saja,,,tak pandang bulu,,,tak pandang usia,,,tak pandang tempat,, keadaan,,suasana,,tak peduli apakah kita sedang sedih,,bahagia,,susah,,whatever,,,whenever... and wherever... -astaghfirullah...-
Sungguh, beruntunglah orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah, yang selalu memanfaatkan karuniaNya itu untuk kebaikan dan menjauhi perbuatan yang sia-sia!

"Wal 'ashr. Innal insaana la fii khusr. Illal ladziina aamanuu wa 'amilush shaalihaati wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shabr. "
"Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran."
(Q.S Al-'Ashr : 1-3)
Mari kita ingat dan renungkan kembali makna dari lagu yang mengutip surat Al-Ashr ini...
Demi masa...
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan...
Yang beriman dan beramal saleh
Demi masa...
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan...
Nasihat kepada kebenaran dan kesabaran
( chorus 1 )
Gunakan kesempatan yang masih diberi
Moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan
Kerna ia takkan kembali
( chorus 2 )
Ingat lima perkara, sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
Demi masa...
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan...
Yang beriman dan beramal saleh
= = = = = = = = = = = = = = =
sebagai pengingat...mengingatkan kita akan kematian,,,,ya,,kematian...tentang maut yang siap datang kapan saja,,,tak pandang bulu,,,tak pandang usia,,,tak pandang tempat,, keadaan,,suasana,,tak peduli apakah kita sedang sedih,,bahagia,,susah,,whatever,,,whenever... and wherever... -astaghfirullah...-
Sungguh, beruntunglah orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah, yang selalu memanfaatkan karuniaNya itu untuk kebaikan dan menjauhi perbuatan yang sia-sia!

"Wal 'ashr. Innal insaana la fii khusr. Illal ladziina aamanuu wa 'amilush shaalihaati wa tawaashau bil haqqi wa tawaashau bish shabr. "
"Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran."
(Q.S Al-'Ashr : 1-3)
Jumat, 21 Agustus 2009
Alhamdulillah, bertemu Ramadhan lagi!^^
MARHABAN YA RAMADHAN
Bulan suci Ramadhan telah tiba. Selama satu bulan penuh, umat Islam di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa, dan ibadah-ibadah lain yang utama dilaksanakan pada bulan penuh rahmat ini.
Mengapa umat Islam berpuasa?
Waktu kita masih kanak-kanak, guru di sekolah maupun guru mengaji mengatakan, bahwa dengan menahan lapar sejak subuh hingga maghrib, kita akan bisa merasakan penderitaan orang-orang miskin yang tidak mampu memperoleh makanan.
Tentu saja penjelasan itu tidak salah, tapi tidak memadai lagi ketika kita semakin bertambah dewasa dan pikiran kita semakin kritis. Allah memerintahkan kita berpuasa bukan untuk membuat kita menderita.
Itulah sebabnya orang yang sedang sakit, orang yang sedang dalam perjalanan jauh, orang yang harus bekerja berat, ibu hamil dan menyusui, serta orang tua yang tubuhnya sudah lemah, tidak diwajibkan berpuasa. Laparnya orang berpuasa juga tidak sama dengan laparnya orang yang memang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.
Meskipun lapar, orang yang berpuasa selalu memiliki kepastian bahwa pada saat maghrib mereka akan bisa menyantap apa saja untuk menghilangkan lapar dan dahaga mereka, lapar mereka hanyalah lapar sementara.
Sedangkan orang yang lapar karena tidak memiliki makanan, mereka tidak memiliki harapan seperti itu, mereka tidak tahu kapan lapar mereka akan berakhir.
Jadi, puasa bukanlah sekedar melaparkan diri agar bisa merasakan penderitaan orang yang tidak mampu memperoleh makanan.
Puasa adalah mengendalikan diri dari segala nafsu duniawi. Bukan hanya nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga nafsu yang muncul berkaitan dengan hati dan pikiran. Puasa adalah pembersihan diri.
Menurut Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, secara psikologis bulan Ramadhan adalah bulan interupsi, edukasi dan revitalisasi melawan rutinitas hidup yang cenderung membuat aktivitas kita bersifat mekanistik tanpa kedalaman makna.

Memupuk kehidupan spiritual adalah inti dari puasa
Puasa adalah ibadah yang hanya bisa dinilai oleh Allah, tidak oleh manusia. Ibadah sholat, zakat, haji, dan lain-lain bisa dilihat dan dinilai oleh orang lain, tetapi puasa hanya kita dan Allah yang tahu. Tak seorang pun tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Kita bisa saja mengunci diri di kamar dan makan sekenyang-kenyangnya, lalu keluar kamar dan mengatakan kepada semua orang bahwa kita puasa. Puasa mendidik kita untuk disiplin dan jujur pada diri sendiri.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat. Ibadah yang dilakukan pada bulan ini pahalanya tujuh puluh kali lipat dari pada bulan-bulan lainnya. Ada satu malam teramat istimewa, malam Lailatul Qadar, dimana ibadah yang dilakukan pada malam itu nilainya sama dengan seribu bulan (lebih dari tujuh puluh tahun). Pada bulan Ramadhan juga Kitab Suci al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk hidup bagi umatNya.

Demikian banyak kemuliaan yang terdapat pada bulan Ramadhan, sehingga sungguh merugi jika kita melewatkan bulan ini, tidak mengisinya dengan amalan dan ibadah yang sebaik-baiknya. Tidak hanya puasa, namun juga sholat Tarawih, mengaji Al Qur’an, I’tikaf, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Memperbanyak infaq, sodaqoh, dan derma di bulan Ramadhan
Dengan ibadah puasa kita diajak melakukan transendensi, mengapresiasi, dan menginternalisasi nilai-nilai moral Ilahi yang mulia, untuk memelihara keluhuran martabat manusia yang oleh Al Qur’an disebut takwa.Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ibadah kita diterima Allah SWT, dan di akhir Ramadhan nanti kita akan memperoleh Idul Fitri, yaitu prestasi spiritual dimana seseorang berhasil menumbuhkan dan menyegarkan kembali potensi kemanusiaannya yang suci.
Insya Allah.
Bulan suci Ramadhan telah tiba. Selama satu bulan penuh, umat Islam di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa, dan ibadah-ibadah lain yang utama dilaksanakan pada bulan penuh rahmat ini.
Mengapa umat Islam berpuasa?
Waktu kita masih kanak-kanak, guru di sekolah maupun guru mengaji mengatakan, bahwa dengan menahan lapar sejak subuh hingga maghrib, kita akan bisa merasakan penderitaan orang-orang miskin yang tidak mampu memperoleh makanan.
Tentu saja penjelasan itu tidak salah, tapi tidak memadai lagi ketika kita semakin bertambah dewasa dan pikiran kita semakin kritis. Allah memerintahkan kita berpuasa bukan untuk membuat kita menderita.
Itulah sebabnya orang yang sedang sakit, orang yang sedang dalam perjalanan jauh, orang yang harus bekerja berat, ibu hamil dan menyusui, serta orang tua yang tubuhnya sudah lemah, tidak diwajibkan berpuasa. Laparnya orang berpuasa juga tidak sama dengan laparnya orang yang memang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.
Meskipun lapar, orang yang berpuasa selalu memiliki kepastian bahwa pada saat maghrib mereka akan bisa menyantap apa saja untuk menghilangkan lapar dan dahaga mereka, lapar mereka hanyalah lapar sementara.
Sedangkan orang yang lapar karena tidak memiliki makanan, mereka tidak memiliki harapan seperti itu, mereka tidak tahu kapan lapar mereka akan berakhir.
Jadi, puasa bukanlah sekedar melaparkan diri agar bisa merasakan penderitaan orang yang tidak mampu memperoleh makanan.
Puasa adalah mengendalikan diri dari segala nafsu duniawi. Bukan hanya nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga nafsu yang muncul berkaitan dengan hati dan pikiran. Puasa adalah pembersihan diri.
Menurut Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, secara psikologis bulan Ramadhan adalah bulan interupsi, edukasi dan revitalisasi melawan rutinitas hidup yang cenderung membuat aktivitas kita bersifat mekanistik tanpa kedalaman makna.

Memupuk kehidupan spiritual adalah inti dari puasa
Puasa adalah ibadah yang hanya bisa dinilai oleh Allah, tidak oleh manusia. Ibadah sholat, zakat, haji, dan lain-lain bisa dilihat dan dinilai oleh orang lain, tetapi puasa hanya kita dan Allah yang tahu. Tak seorang pun tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Kita bisa saja mengunci diri di kamar dan makan sekenyang-kenyangnya, lalu keluar kamar dan mengatakan kepada semua orang bahwa kita puasa. Puasa mendidik kita untuk disiplin dan jujur pada diri sendiri.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat. Ibadah yang dilakukan pada bulan ini pahalanya tujuh puluh kali lipat dari pada bulan-bulan lainnya. Ada satu malam teramat istimewa, malam Lailatul Qadar, dimana ibadah yang dilakukan pada malam itu nilainya sama dengan seribu bulan (lebih dari tujuh puluh tahun). Pada bulan Ramadhan juga Kitab Suci al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk hidup bagi umatNya.

Demikian banyak kemuliaan yang terdapat pada bulan Ramadhan, sehingga sungguh merugi jika kita melewatkan bulan ini, tidak mengisinya dengan amalan dan ibadah yang sebaik-baiknya. Tidak hanya puasa, namun juga sholat Tarawih, mengaji Al Qur’an, I’tikaf, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Memperbanyak infaq, sodaqoh, dan derma di bulan Ramadhan
Dengan ibadah puasa kita diajak melakukan transendensi, mengapresiasi, dan menginternalisasi nilai-nilai moral Ilahi yang mulia, untuk memelihara keluhuran martabat manusia yang oleh Al Qur’an disebut takwa.Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ibadah kita diterima Allah SWT, dan di akhir Ramadhan nanti kita akan memperoleh Idul Fitri, yaitu prestasi spiritual dimana seseorang berhasil menumbuhkan dan menyegarkan kembali potensi kemanusiaannya yang suci.
Insya Allah.
Selasa, 21 Juli 2009
Purwokerto, I'm in love with youuu^^
Relax. Forget your business for a while. Now, I want tell you about the small town that made me in love.

What’s on your mind if you hear Purwokerto?
For me, that word mean ‘ndeso’ name, looks like so out of fashion and hi-tech device. In my first impression with that name, I feel the traditional atmosphere is very strong, just it!
Last Friday (July,17th), in the some breath with Bomb Terror of Jakarta, me and my family went to Puerto Rico. *Oh, forgive me with a slip of the pen*. I mean PURWOKERTO! It doesn’t mean we were joined exodus from Jakarta, it just incidentality!
After more or less 8 hours away by car, finally I beat up that small town. It was midnight so I couldn’t see the whole of town. And sleeping is the best choice! Hehehe… xp When the morning comes, I was going around the town which I staying with.
Making my way downtown, Walking fast, faces past And I’m homebound.. Staring blankly a head Just making my way, making my way Through the crowd..
Okay. Maybe ‘a thousand miles’ by Vanessa Carlton fit to play in my car. Lalala~ :DD
I frightened out of with that town. Well, Purwokerto is very beautiful and clean town, it won Adipura Cup as runner up last year. Not only it, but that town also has strong ‘magical power’ to make me stay on in there. If you stay in there, you will feel that time is running slowly. No more traffic jam hit the town. No more greedy in every second. By sure, those towns offer me pleasure. I can forget about anything that makes me hard pressed.
And this is the calm picture of Purwokerto.
The vehicles are not crowded as well as Jakarta. Maybe it because the popularity density is low. And because this town is not too large, so, you can finish Purwokerto in an hour by car, therefore the citizens choose motorbike to go around. Hehehe.. That’s why I’m in love with this town. ^^
.jpg)
This the downtown (alun-alun) in the towards the evening
I realize that Purwokerto is given me Indonesia looks like. The towny get on together in alun-alun (oh, could I found in Jakarta?). For your information, in that town I almost rare find foreign corporation was build. The control drive was local people. Nonintervention of foreign in local economic or culture. Many local restaurant offer local food like Mendoan, Soto Jalan Bank, Sate Kambing Tiga Saudara (thanks Jana for recomendation, I’ve taste it all. Delicious culinary!).
Once again I say, Purwokerto is very Indonesiatic! Standing ovation with that town.
Don’t be misinterpretation, far from foreign hands doesn’t mean out of fashion, in the fact I often look many internet store in that town, it makes Purwokerto always have an ear to the ground.
Maybe, we must learn from Purwokerto, how to develop its region without leave any local culture. That’s the point!
In outside of town, we can still look many fields…
Especially in the road to Baturraden. Oh, how beautiful God’s creature^^
Forgive me if I cannot stop to take a photograph about the scenery I saw. It’s cool baby, cool!!;)

Yap. Baturraden is tourists area that located in the top of Slamet Mountain, Central Java. You just pay five thousand rupiahs and then you will see beautiful scenery in there.^^
Me in Baturraden.
Okay, that’s my report from my trip in Purwokerto. You can called me too much show off, whatever, but, I just want to sharing experience with the place I amazed. It will makes me proud being Indonesian (and maybe you too).
*Next trip in Dieng, just looking my album by yourself. Sorry, if my English grammar gets wrong! hehe;)
*Next trip in Dieng, just looking my album by yourself. Sorry, if my English grammar gets wrong! hehe;)
Sabtu, 11 Juli 2009
Jadilah Diri Sendiri
Tujuanmu adalah menemukan siapa dirimu sebenarnya (A course of Miracle). Begitu diri sendiri ditemukan, keajaiban hidup akan segera berdatangan. Sayangnya, menemukan diri (sesuatu yang sangat dekat) tidak mudah dilakukan. Jadwal keinginan yang terlalu deras membendung kita untuk lebih memburu hal-hal di luar diri kita: musik terbaru, berita atau gossip terbaru, hasil pertandingan terbaru, dan segala yang baru dari luar diri. Kita terus menerus melayani apa yang ada di hadapan kita, bukan yang ada dalam diri kita. Dorongan untuk dianggap “sama dengan yang lain” atau “mengikuti tren terkini” mendesak kita untuk mengesampingkan perasaan, kearifan, dan kelelahan kita:
“Sembilan puluh persen kesengsaran dunia berasal dari orang-orang yang tidak mengenal diri mereka sendiri, kemampuan, kelemahan moril, bahkan kebajikan mereka sendiri. Kebanyakan dari kita menjalani hampir seluruh hidup kita sebagai orang yang sama sekali asing terhadap diri kita sendiri” (Sydney J. Haris)
Dalam masyarakat yang terarah keluar diri, kita terus melangkah maju dan lupa. Kita menjadi begitu terbiasa dengan suasana hiperaktif sehingga lupa cara untuk hening, santai, dan menyelaraskan diri dengan perasaan kita yang sebenarnya. Kita lupa bagaimana “membaca” diri kita sendiri. Kita punya daftar panjang nomor pin atau kata sandi untuk membuka rekening/username, tetapi tidak punya akses untuk masuk ke batin kita. Kita begitu jenuh dengan tuntutan tren sehingga lupa bagaimana menjadi sadar akan diri sendiri, terarah ke dalam diri. Seseorang yang sibuk bahkan berkata, “untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik, saya harus menjadi seseorang yang tidak saya kehendaki.”
Emerson menulis, “Janganlah Anda memercayai janiji kemenangan politik, kenaikan gaji, kesembuhan dari penyakit atau kembalinya harihari bahagia, sebab permasalahannya tidak semudah yang dikatakan. Bahkan tiada sesuatu pun yang dapat mendatangkan ketenangan bagi Anda kecuali diri Anda sendiri.” Ketika keinginan untuk sukses seperti orang lain menguat, saat itu kita lupa kepada diri kita sendiri. Stress akan muncul karena Phytagoras (filsuf Yunani) pernah berkata, “Sakit itu tidak ada, yang ada hanyalah keabaikan atau ketiadaan kesadaran diri.”
Al-Qur’an menyatakan, Wahai jiwa yang tenang, kembali kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai (oleh-Nya). (QS. Al-Fajr : 27-28). Fantastis, Al-Qur’an sering memberikan peringatan akan bahaya penyakit jiwa ketimbang penyakit badan, Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS. Al-Shaff : 5). Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta (QS. Al-Baqarah :10)
Montaigne, seorang filsuf Perancis, menyatakan, “Tubuh manusia tidak banyak terpengaruh oleh kejadian yang menimpa dirinya; tidak sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh pendapatnya karena memikirkan sesuatu peristiwa.” Dalam sebuah atsar disebutkan, “Ya Allah, jadikanlah diriku merasa puas akan ketetapanMu sehingga aku meyakini bahwa apa saja yang menimpa diriku bukanlah sesuatu yang nyasar kepadaku dan apa saja yang luput dariku bukanlah karena dipalingkan kepadaku.”
Semakin mengenali diri, semakin baik kita memercayai kecerdasan yang ada dalam diri. Gede Prama menyebutkan bahwa pada masing-masing diri ada sesosok bayi yang ingin terus dilahirkan. Bayi yang memiliki cara pandang yang polos, penuh senyum pada seluruh peristiwa, tidak masuk akal (karena lebih mengutamakan kebahagiaan), lucu, berpusat pada diri, dan lentur. Bayi adalah innocent (tanpa dosa, tanpa pikir panjang yang rumit-rumit). Jika kita sedang mumet, dengarkan permintaan bayi kita, lalu ikutilah keinginannya untuk diam sejenak, atau bernyanyi atau berjingkrak-jingkrak. Know yourself! Itulah dasar pemikiran filsafat Ekstensialisme.
every day there's a boy in the mirrorasking me what are you doing herefinding all my previous motivesgrowing increasingly unclear
(Homesick – Kings of Convenience)
Setelah mengetahui diri yang sama pentingnya adalah penerimaan-diri; semakin kita melatih penerimaan-diri, semakin mudah untuk mengakui kekuatan kita, mengapresiasikan prestasi yang kita dapat, menghadapi tantangan, terbuka terhadap umpan balik, menerima tawaran bantuan, dan seterusnya. Penerimaan diri membuat segala sesuatunya menjadi mudah sedangkan penolakan diri menimbulkan pergulatan yang lebih keras dan ketidaktenangan dan menuntut lebih banyak kerja keras. Psikolog Carl Gustav Jung menulis, “Orang bisa memenuhi tuntutan keharusan dari luar dengan cara yang ideal jika dia juga memenuhi tuntutan dari dunia di dalam dirinya; artinya jika dia rukun dengan dirinya sendiri.”
Menerima diri berarti tidak menginginkan menjadi orang lain. Hidup orang lain bisa tampak begitu menyenangkan, tapi belum tentu begitu keadaannya. Rumput di halaman tetangga kadang terlihat lebih indah daripada rumput halaman sendiri. Janganlah meniru kepribadian orang lain. Sesungguhnya sikap itu akan membuat kita gampang bersedih. Banyak orang yang melupakan diri mereka, suara mereka, gerakan, bakat, hobi, dan sebagainya demi menjadi orang lain. Hasilnya adalah keterpaksaan, terseret-seret seperti bayangan yang selalu mengikuti pusatnya.
Sejak Adam hingga mahluk terakhir, belum pernah ada yang sama diantara dua orang dalam kembarnya. Lalu, mengapa kita harus sama dengan yang lain? Kita adalah sosok khas yang belum pernah ada sepanjang sejarah, tidak ada sosok yang sama dengan kita. Yakinilah itu… Sungguh, tiap-tiap manusia mengetahui tempat minumnya sendiri.. (QS. Al-Baqarah : 60) Tiap-tiap umat memiliki kiblatnya sendiri yang mereka menghadap kepadanya. Oleh karena itu, berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan… (QS. Al-Baqarah : 148)
So, jalanilah hidup ini dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang telah diberikan Allah kepada diri kita. Jangan ubah suara, jangan ganti aksen bicara, jangan ubah cara berjalan. Bersyukur sajalah dengan apa yang sudah diberikan Allah. Carilah rahasianya sambil percaya bahwa Allah tidak pernah iseng ketika menciptakan kita.
Kalau dikaitkan dengan pengalaman pribadi penulis, “Orang akan semakin sulit mendefinisikan dirinya; Saya Adalah…; ketika sudah banyak topeng (kepura-puraan) watak yang telah ia mainkan di dunia nyata. Akibatnya, saat ia harus menjelaskan siapa dirinya, ia bingung harus menjawab apa, karena ia telah kehilangan karakter asli dirinya sendiri. So, be your self, guys!”
*sumber : sebagian dikutip dari buku La Tahzan for Teens oleh Qomaruzzaman Awwab.
“Sembilan puluh persen kesengsaran dunia berasal dari orang-orang yang tidak mengenal diri mereka sendiri, kemampuan, kelemahan moril, bahkan kebajikan mereka sendiri. Kebanyakan dari kita menjalani hampir seluruh hidup kita sebagai orang yang sama sekali asing terhadap diri kita sendiri” (Sydney J. Haris)
Dalam masyarakat yang terarah keluar diri, kita terus melangkah maju dan lupa. Kita menjadi begitu terbiasa dengan suasana hiperaktif sehingga lupa cara untuk hening, santai, dan menyelaraskan diri dengan perasaan kita yang sebenarnya. Kita lupa bagaimana “membaca” diri kita sendiri. Kita punya daftar panjang nomor pin atau kata sandi untuk membuka rekening/username, tetapi tidak punya akses untuk masuk ke batin kita. Kita begitu jenuh dengan tuntutan tren sehingga lupa bagaimana menjadi sadar akan diri sendiri, terarah ke dalam diri. Seseorang yang sibuk bahkan berkata, “untuk melakukan pekerjaan saya dengan baik, saya harus menjadi seseorang yang tidak saya kehendaki.”
Emerson menulis, “Janganlah Anda memercayai janiji kemenangan politik, kenaikan gaji, kesembuhan dari penyakit atau kembalinya harihari bahagia, sebab permasalahannya tidak semudah yang dikatakan. Bahkan tiada sesuatu pun yang dapat mendatangkan ketenangan bagi Anda kecuali diri Anda sendiri.” Ketika keinginan untuk sukses seperti orang lain menguat, saat itu kita lupa kepada diri kita sendiri. Stress akan muncul karena Phytagoras (filsuf Yunani) pernah berkata, “Sakit itu tidak ada, yang ada hanyalah keabaikan atau ketiadaan kesadaran diri.”
Al-Qur’an menyatakan, Wahai jiwa yang tenang, kembali kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai (oleh-Nya). (QS. Al-Fajr : 27-28). Fantastis, Al-Qur’an sering memberikan peringatan akan bahaya penyakit jiwa ketimbang penyakit badan, Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka (QS. Al-Shaff : 5). Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta (QS. Al-Baqarah :10)
Montaigne, seorang filsuf Perancis, menyatakan, “Tubuh manusia tidak banyak terpengaruh oleh kejadian yang menimpa dirinya; tidak sebagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh pendapatnya karena memikirkan sesuatu peristiwa.” Dalam sebuah atsar disebutkan, “Ya Allah, jadikanlah diriku merasa puas akan ketetapanMu sehingga aku meyakini bahwa apa saja yang menimpa diriku bukanlah sesuatu yang nyasar kepadaku dan apa saja yang luput dariku bukanlah karena dipalingkan kepadaku.”
Semakin mengenali diri, semakin baik kita memercayai kecerdasan yang ada dalam diri. Gede Prama menyebutkan bahwa pada masing-masing diri ada sesosok bayi yang ingin terus dilahirkan. Bayi yang memiliki cara pandang yang polos, penuh senyum pada seluruh peristiwa, tidak masuk akal (karena lebih mengutamakan kebahagiaan), lucu, berpusat pada diri, dan lentur. Bayi adalah innocent (tanpa dosa, tanpa pikir panjang yang rumit-rumit). Jika kita sedang mumet, dengarkan permintaan bayi kita, lalu ikutilah keinginannya untuk diam sejenak, atau bernyanyi atau berjingkrak-jingkrak. Know yourself! Itulah dasar pemikiran filsafat Ekstensialisme.
every day there's a boy in the mirrorasking me what are you doing herefinding all my previous motivesgrowing increasingly unclear
(Homesick – Kings of Convenience)
Setelah mengetahui diri yang sama pentingnya adalah penerimaan-diri; semakin kita melatih penerimaan-diri, semakin mudah untuk mengakui kekuatan kita, mengapresiasikan prestasi yang kita dapat, menghadapi tantangan, terbuka terhadap umpan balik, menerima tawaran bantuan, dan seterusnya. Penerimaan diri membuat segala sesuatunya menjadi mudah sedangkan penolakan diri menimbulkan pergulatan yang lebih keras dan ketidaktenangan dan menuntut lebih banyak kerja keras. Psikolog Carl Gustav Jung menulis, “Orang bisa memenuhi tuntutan keharusan dari luar dengan cara yang ideal jika dia juga memenuhi tuntutan dari dunia di dalam dirinya; artinya jika dia rukun dengan dirinya sendiri.”
Menerima diri berarti tidak menginginkan menjadi orang lain. Hidup orang lain bisa tampak begitu menyenangkan, tapi belum tentu begitu keadaannya. Rumput di halaman tetangga kadang terlihat lebih indah daripada rumput halaman sendiri. Janganlah meniru kepribadian orang lain. Sesungguhnya sikap itu akan membuat kita gampang bersedih. Banyak orang yang melupakan diri mereka, suara mereka, gerakan, bakat, hobi, dan sebagainya demi menjadi orang lain. Hasilnya adalah keterpaksaan, terseret-seret seperti bayangan yang selalu mengikuti pusatnya.
Sejak Adam hingga mahluk terakhir, belum pernah ada yang sama diantara dua orang dalam kembarnya. Lalu, mengapa kita harus sama dengan yang lain? Kita adalah sosok khas yang belum pernah ada sepanjang sejarah, tidak ada sosok yang sama dengan kita. Yakinilah itu… Sungguh, tiap-tiap manusia mengetahui tempat minumnya sendiri.. (QS. Al-Baqarah : 60) Tiap-tiap umat memiliki kiblatnya sendiri yang mereka menghadap kepadanya. Oleh karena itu, berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan… (QS. Al-Baqarah : 148)
So, jalanilah hidup ini dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang telah diberikan Allah kepada diri kita. Jangan ubah suara, jangan ganti aksen bicara, jangan ubah cara berjalan. Bersyukur sajalah dengan apa yang sudah diberikan Allah. Carilah rahasianya sambil percaya bahwa Allah tidak pernah iseng ketika menciptakan kita.
Kalau dikaitkan dengan pengalaman pribadi penulis, “Orang akan semakin sulit mendefinisikan dirinya; Saya Adalah…; ketika sudah banyak topeng (kepura-puraan) watak yang telah ia mainkan di dunia nyata. Akibatnya, saat ia harus menjelaskan siapa dirinya, ia bingung harus menjawab apa, karena ia telah kehilangan karakter asli dirinya sendiri. So, be your self, guys!”
*sumber : sebagian dikutip dari buku La Tahzan for Teens oleh Qomaruzzaman Awwab.
Langganan:
Postingan (Atom)